Jakob Sumardjo – Guru Besar Institut Seni Budaya Indonesia Bandung

Dalam Sosiologi Seni dikenal ungkapan “seni sebagai cermin masyarakat“ yang berarti karya seni menggambarkan masyarakatnya. Tetapi juga dikenal ungkapan “masyarakat adalah cermin karya seninya”. Dalam hal terakhir ini sebuah karya seni yang besar dapat menjadi sumber inspirasi hidup masyarakatnya. Karya seni yang demikian berubah menjadi mitos bagi masyarakatnya.

Pada masyarakat Jawa dikenal pertunjukan wayang yang cerita dan tokoh-tokohnya menjadi teladan bagi masyarakatnya. Sering terdengar ucapan, “wah orangnya bijak seperti Yudistira”, atau “wah gagah mirip Gatotkaca”, atau “ah dia memang Arjuna, punya bini dimana-mana”. Pada masyarakat Sunda juga dikenal wayang sebagai sumber inspirasi bagi kehidupan, tetapi juga ada pertunjukan pantun yang dahulu amat terkenal sebagai mitos sosial. Sampai tahun 1970-an pertunjukan cerita pantun masih banyak berlangsung di daerah-daerah kecamatan bahkan di perkotaan. Ajip Rosidi sebagai budayawan Sunda amat peka dalam menyelamatkan kekayaan mitos Pantun Sunda ketika itu, yaitu dengan rajin berkeliling Jawa Barat untuk merekam pertunjukan cerita pantun dan kemudian mentraskripsinya dalam bentuk buku stensilan. Saya tidak tahu apakah rekaman pertunjukan pantun tahun 1970-an ini masih tersimpan atau tidak, tetapi yang jelas kita masih dapat memperoleh cetakan stensilannya di pasar-pasar loak pada tahun 1990-an.

Buku stensilan itu beberapa buah dicetak sebagai buku yang diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1970-an. Saya sendiri mengenal cerita pantun dari jerih payah bapak Ajip Rosidi itu, banyak yang saya peroleh dari pasar loak Palasari di Bandung dan beberapa yang fotokopi dari teman-teman di Bandung. Saya hanya memperoleh sekitar 20 transkripsi pertunjukan pantun tersebut dan kemudian saya tafsirkan dari sudut filsafat budaya. Kini tinggal beberapa buah saja saya miliki karena banyak dipinjam teman-teman dan banyak yang tak kembali. Untung saya sudah menerbitkan tafsirannya dalam tiga buku. Padahal buku-buku stensilan berupa transkripsi Pantun Sunda beserta Pengantar dan Pendahuluannya oleh Ajip Rosidi itu lebih banyak, mungkin sekitar 30-an. Mengingat sudah semakin sedikit dan jarangnya pertunjukan pantun di masyarakat, maka kerja keras  bapak Ajip Rosidi itu pantas kita hormati dan lestarikan agar kekayaan rohaniah masyarakat Sunda ini tetap hidup di masyarakatnya. Tetapi jumlah cerita pantun jauh lebih banyak lagi, beberapa hanya kita kenal judulnya saja. Juru pantun juga semakin hilang di masyarakat.

Seni pertunjukan di Indonesia, dalam budaya pra-modern di pedesaan, bukanlah seni pertunjukan biasa yang profan. Seni pertunjukan pra-modern atau tradisional-etnis, ada hubungannya dengan dasar budaya pra-modern yang sering disebut budaya-mistis-spiritual. Seni pertunjukan selalu dihubungkan dengan penyelenggaraan hajatan. Tak ada seni pertunjukan tanpa hajatan. Senimannya sendiri juga tak mau pentas kalau tak ada alasan hajatan bagi pertunjukannya. Itulah sebabnya cerita-cerita yang diangkat dalam seni pertunjukan selalu berupa mitos-mitos suku, yaitu cerita tentang nenek moyang suku di zaman yang sudah lama lewat. Cerita tentang asal usul mereka dan alam semesta ini serta peran mereka dalam budaya masyarakatnya. Meskipun banyak cerita tak masuk akal manusia modern, misalnya menghidupkan orang mati dalam cerita pantun, atau membungkus sebuah negara untuk dipindahkan, atau mengecilkan tubuh sebagai nyamuk, tetapi oleh masyarakatnya diterima sebagai masuk akal saja karena budayanya masih mistis-spiritual tadi. Mitos-mitos yang tak masuk akal bagi masyarakat modern ini diterima sebagai realitas sejarah suci bagi masyarakatnya. Tokoh-tokoh dalam mitos-mitos itu benar-benar dipercaya ada.

Tokoh-tokoh mitos itu kini sudah ada di alam spiritual, tetapi masih dapat diminta pertolongannya oleh anak cucu mereka di masa kemudian, yaitu melalui penceritaan kembali riwayat mereka. Dengan demikian, seni pertunjukan pantun sebenarnya dimaksudkan untuk mengundang dan menghadirkan tokoh-tokoh mitos pantun dalam suatu hajatan. Itulah sebabnya orang tak boleh meninggalkan pertunjukan pantun (atau di Jawa, Wayang Kulit) sebelum pertunjukan selesai, yakni sebelum roh tokoh-tokoh pantun tadi dipulangkan kembali ke alam spiritual. Itulah sebabnya pertunjukan pantun selalu dimulai dengan ungkapan rajah pembuka dan diakhiri dengan rajah penutup. Rajah itu semacam doa dan mantra yang berisi permohonan ampun kalau-kalau juru pantun salah bercerita  atau ucapan terima kasih dan maaf atas kehadiran tokoh-tokoh mitos tadi.

Seperti dalam pertunjukan Wayang Kulit di Jawa, setiap hajatan memerlukan cerita atau lakon tersendiri, begitu pula dalam pantun. Untuk hajatan khitanan, misalnya dipertunjukan lakon akil balig seorang ksatria, misalnya anak tak sah Arjuna ketika remaja mencari ayahnya dengan nama Bambang. Kalau Bambang ini berhasil mengalahkan Arjuna baru diakui sebagai anaknya. Kalau hajatan pengantin dipentaskan cerita perkawinan Gatotkaca, misalnya kalau cerita ruwatan selalu cerita Betara Kala, yaitu dalam hajatan meruwat anak tunggal atau anak kembar biar selamat hidup mereka. Pertunjukan pantun juga demikian. Kalau untuk hajatan kelahiran misalnya diangkat cerita Badak Pemalang atau Budak Manjor. Cerita pantun yang tak boleh sembarangan dipentaskan adalah Lutung Kasarung, Mundinglaya Dikusumah, Ciung Wanara, Nyai Sumur Bandung, Sulanjana. Hanya dalam hajatan-hajatan ruwatan atau penyucian saja boleh dipentaskan. Dalam lakon Lutung Kasarung, misalnya diturunkanlah semua ajaran budaya Sunda di masa peladangan, dari kahiyangan melalui Guru Minda atau Lutung Kasarung, bagaimana kaum lelaki harus berladang dan bagaimana kaum perempuan harus memasak, menumbuk padi, berhias, berbusana dan lain-lain. Ada pembagian tugas lelaki yang berbeda dengan kaum perempuan dalam budaya lama, artinya tugas perempuan tak boleh dikerjakan lelaki dan sebaliknya, sehingga di masyarakat lama tak mungkin muncul feminisme.

Dalam cerita pantun, yang dipentaskan semalam suntuk dalam bentuk tuturan prosa-liris dan nyanyian yang diiringi petikan kecapi, hidup ini meliputi tiga alam, yakni alam bawah bumi (atau laut), yang disebut Dunia Bawah, ada alam manusia yang disebut Dunia Tengah, dan alam roh nenek moyang, segala dewa dan batara dan para hiyang, yang disebut Dunia Atas. Dunia Atas (Buana Nyungcung) merupakan alam supranatural yang mengatasi hukum sebab akibat dunia manusia. Itulah alam spiritual yang tak terbatas ruang dan waktu serta energinya. Alam Dunia Atas itu dapat dimintai pertolongannya untuk keselamatan hidup manusia. Ada acara untuk menghadirkan atau hadir di Dunia Atas, yaitu manusia mendatangkan roh tokoh-tokoh mitos ke dunia manusia, misalnya Ciung Wanara atau Lutung Kasarung, atau manusia yang justru “naik” ke Dunia Atas, misalnya dalam cerita Mundinglaya Dikusumah.

Seni pertunjukan budaya mistis-spiritual masa lampau ini adalah mengulangi kembali peristiwa-peristiwa mitos yang dapat dipercayai sebagai sejarah suci oleh masyarakatnya, sehingga setiap pertunjukan dapat memberikan semacam berkat keselamatan bagi masyarakatnya. Inilah yang oleh Eliade disebut sebagai eternal return bagi umat manusia, misalnya merayakan kembali kelahiran tokoh-tokoh spiritual umat manusia. Mengulang kembali peristiwa spiritual masa lampau bagi keselamatan dan kesejahteraan anak cucu sebuah kebudayaan itu merupakan gejala umum manusia.

Dalam cerita Lutung Kasarung, misalnya Purbasari ketika berlomba dalam soal pekerjaan perempuan, seperti memasak, berdandan, mengolah tanaman dengan Purbalarang yang kelaki-lakian (memerintah) tak perlu dibantu Dunia Atas lewat Lutung Kasarung. Tetapi ketika lomba membendung sungai dan membuka hutan yang merupakan tugas lelaki, Purbasari dibantu Dunia Atas.

Sedangkan cerita bagaimana manusia dapat sempurna seperti para roh nenek moyang di kahyangan, adalah dengan laku tapa, doa, puasa, berpantang, menjauhkan hidup duniawi untuk mendekati hidup rohani. Tokoh-tokoh cerita pantun yang sempurna semacam itu dapat mengatasi hukum sebab akibat semesta, misalnya menghilang, mengecilkan atau membesarkan tubuh, menjadikan tubuh lebih tua atau kembali menjadi anak-anak, dapat terbang, dapat membangkitkan orang mati, dan hal-hal supranatural yang lain.

Dengan demikian, cerita pantun berisi mitos masa lampau masyarakatnya yang menggambarkan alam pikirannya, baik dalam kepercayaannya atau etika hidup sosial dan personalnya.

Setiap bangsa memiliki pahlawan budayanya masing-masing. Masyarakat Sunda memiliki kisah para pahlawan budayanya dalam cerita-cerita pantun. Dari cerita-cerita itu kita tahu bagaimana nenek moyang kita mengajarkan banyak tata kehidupan yang benar dan baik bagi sesamanya. Ada semacam etika Sunda lama yang dapat kita warisi. Dalam Lutung Kasarung misalnya, kita diberi tahu bahwa setiap perubahan itu terjadi di bawah pengawasan para pohaci (semacam malaikat masa lampau). Benih padi punya pohacinya sendiri, ketika tumbuh tunas padinya, penjaga pohacinya juga berganti. Kalau padi menguning juga ganti pohaci. Artinya setiap perubahan di alam semesta ini selalu sepengetahuan pohaci atau roh Yang Esa. Tidak akan ada perubahan tanpa restunya.

Mundinglaya mengajarkan bagaimana pemuda remaja usia 16 tahun ini telah mencapai tingkat “manusia sempurna” atau manusia-rohani yang mampu hadir di “sejabening langit” untuk memperoleh Lalayang Salaka Domas bagi kesejahteraan kerajaan Padjajaran. Ia adalah pemuda yang rendah hati, tak pedendam, banyak puasa dan menderita demi kebenaran, sehingga sampai taraf “manusia kedewaan”, puncak capaian rohaniah manusia. Ia dapat hadir di luar alam semesta ini, memasuki alam spiritual yang non-kasualitas.

Sudah saatnya kita mengumpulkan kembali warisan budaya Sunda ini yang mengandung kearifan lokal yang kaya ini. Kalau dapat menghidupkan kembali para juru pantun yang masih ada sekarang ini untuk mewariskan pengetahuan seninya pada angkatan masa kini. Juru pantun ini dapat bercerita semalam suntuk dengan iringan kecapinya, yang dalam transkripsi Ajip sering memakan lebih dari 200 halaman. Bagaimana juru pantun dapat hafal cerita yang  berupa buku setebal 200 halaman tersebut?. Sayang kalau kekayaan budaya pantun itu lenyap begitu saja dari ingatan kolektif masyarakatnya.

Semua itu demi memberi jawaban pertanyaan : siapakah sebenarnya diri kita saat ini? Dari mana dan mau kemana?

*****

Leave a Reply